KARANG TARUNA PUTRA CERDAS

Tentang Kami

Tentang Kami

Selayang Pandang
Sering kita mendengar istilah Karang Taruna. Yang terbesit di pikiran kita pasti adalah tentang organisasi pemuda. Baiklah Guys, agar tidak bingung di artikel kali ini akan membahas sejarah dan asal-usul Karang Taruna Indonesia.
Jika ditelisik secara epistimologis (asal kata) karang mempunyai arti tempat berkumpul, sedangkan taruna berarti para pemuda. Jadi secara sederhana Karang Taruna berarti tempat berkumpulnya para pemuda. Muda artinya belum tua. Sesuai Kemensos No 23 Tahun 2013 batas usia tua dan muda tidak ditentukan secara pasti. Tetapi untuk keanggotaan diberikan batas yaitu pada usia 13-45 tahun
 
 
Sejarah Karang Taruna Indonesia
Pertama kali Karang Taruna lahir yaitu pada tanggal 26 September 1960 di Kampung Melayu, Jakarta. Kelahiran gerakan ini merupakan perwujudan semangat kepedulian generasi muda untuk turut mencegah dan menanggulangi masalah kesejahteraan sosial masyarakat, terutama yang dihadapi anak dan remaja di lingkungannya.
Sejarah perkembangan Karang Taruna di Indonesia mencakup beberapa era, dan setiap era mempunyai cerita sendiri yang menjadi sejarah bagi Karang Taruna. Berikut ini adalah sejarah Karang Taruna di Indonesia
 
 
Karang taruna Di Tahun 1960 - 1069
Tahun 1960–1969 adalah saat awal dimana Bangsa Indonesia mulai melaksanakan pembangunan disegala bidang. Instansi-Instansi Sosial di DKI Jakarta (Jawatan Pekerjaan Sosial/Departemen Sosial) berupaya menumbuhkan Karang Taruna–Karang Taruna baru di kelurahan melalui kegiatan penyuluhan sosial.
Pertumbuhan Karang Taruna saat itu terbilang sangat lambat, tahun 1969 baru terbentuk 12 Karang Taruna, hal ini disebabkan peristiwa G 30 S/PKI sehingga pemerintah memprioritaskan berkonsentrasi untuk mewujudkan stabilitas nasional.
 
 
Karang taruna Di Tahun 1969 - 1083
Salah satu pihak yang berjasa mengembangkan Karang Taruna adalah Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin (1966-1977). Pada saat menjabat Gubernur, Ali Sadikin mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi bagi tiap Karang Taruna dan membantu pembangunan Sasana Krida Karang Taruna (SKKT). Selain itu Ali Sadikin juga menginstruksikan Walikota, Camat, Lurah dan Dinas Sosial untuk memfungsikan Karang Taruna. Tahun 1970 Karang Taruna DKI membentuk Mimbar Pengembangan Karang Taruna (MPKT) Kecamatan sebagai sarana komunikasi antar Karang Taruna Kelurahan.
Sejak itu perkembangan Karang Taruna mulai terlihat marak, pada Tahun 1975 dilangsungkanlah Musyawarah Kerja Karang Taruna, dan pada moment tersebut Lagu Mars Karang Taruna ciptaan Gunadi Said untuk pertama kalinya dikumandangkan. Tahun 1980 dilangsungkan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Karang Taruna di Malang, Jawa Timur. Dan sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 1981 Menteri Sosial mengeluarkan Keputusan tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Karang Taruna dengan Surat Keputusan Nomor. 13/HUK/KEP/I/1981 sehingga Karang Taruna mempunyai landasan hukum yang kuat.
Tahun 1982 Lambang Karang Taruna ditetapkan dengan Keputusan Menteri Sosial RI nomor.65/HUK/KEP/XII/1982, sebagai tindak lanjut hasil Mukernas di Garut tahun 1981. Dalam lambang tercantum tulisan Aditya Karya Mahatva Yodha (artinya: Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan dan terampil) Pada tahun 1983 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengeluarkan TAP MPR Nomor II/MPR/1983 tentang Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang didalamnya menempatkan Karang Taruna sebagai wadah pengembangan generasi muda.
 
 
Karang Taruna Ketika Masa Krisis (1997 – 2004)
Krisis moneter yang terjadi tahun 1997 berkembang menjadi krisis ekonomi, yang dengan cepat menjadi krisis multidimensi. Imbas dari krisis tersebut tak urung juga berdampak pada lambannya perkembangan Karang Taruna. Puncaknya pada saat pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid membubarkan Departemen Sosial, Karang Taruna pada umumnya mengalami stagnasi, bahkan mati suri. Konsolidasi organisasi terganggu ,aktivitas terhambat dan menurun bahkan cenderung terhenti. Hal tersebut menyebabkan Klasifikasi Karang Taruna menurun walaupun masih ada Karang Taruna yang tetap eksis.
Tahun 2001 Temu Karya Nasional Karang Taruna dilaksanakan di Medan., Sumatera Utara. Hasilnya antara lain menambah nama Karang Taruna menjadi Karang Taruna Indonesia, memilih Ketua Umum Pengurus Nasional KTI, serta menyusun Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga KTI. Hasil TKN tersebut memperoleh tanggapan yang berbeda-beda dari daerah.      
 
Karang Taruna Masa Kini (2005-2018)
Seiring berkembanganya media komunikasi masa dan kebebasan berekspresi, banyak sekali organisasi masyarakat yang memanfaatkan forum karang taruna dengan baik, tetapi ada juga yang menyalah artikan kedudukan karang taruna untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Setiap Karang Taruna berkedudukan di desa/ kelurahan atau komunitas adat sederajat diseluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sesuai dengan kedudukannya, maka Karang Taruna secara organisasi bersifat lokal dan berdiri sendiri, sehingga hubungan antara sesama Karang Taruna bersifat horizontal, sederajat dan tidak saling membawahi.
Dukungan pemerintah untuk kepemudaan sudah sangat besar, yang tersisa adalah tinggal bagaimana para pemuda memanfaatkan dukungan dari pemerintah tersebut untuk mengembangkan organisasi agar tetap solid dan berkembang dengan kegiatan yang positif.
 
 
Karang Taruna Masa Kini (2019-Sekarang)

Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Pepen Nazaruddin mengingatkan segenap anggota Karang Taruna, tentang tantangan bangsa di era revolusi industri 4.0.

“Karang Taruna harus mempersiapkan diri menghadapi era serba digitial ini. Karena anggota Karang Taruna pada dasarnya adalah generasi milenial dengan rentang usia 13-45 tahun,” kata Pepen Nazaruddin yang mewakili Mensos, Agus Gumiwang Kartasasmita pada acara puncak peringatan Bulan Bhakti Karang Taruna (BBKT) Tingkat Nasional, di Bandar Lampung, Sabtu (26/1).

Mensos menyatakan, revolusi industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antara manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen. Ia yakin, Karang Taruna bisa memainkan peran penting di era revolusi industri 4.0.

“Karang Taruna bisa berperan sebagai salah satu agen, kekuatan mental dan sosial kontrol dalam melaksanakan dan menghadapi revolusi industri 4.0,” kata Mensos.

Menurut Mensos, generasi milenial yang mengisi keanggotaan Karang Taruna punya karakteristik positif dan diyakini mampu menunjang peran sebagai kekuatan mental dan sosial kontrol.

Di antara karakteristik itu adalah kreatif (terbiasa berfikir out of the box , kaya ide/gagasan), confidence (sangat percaya diri dan berani mengungkapkan pendapatnya tanpa ragu), connected (generasi yang pandai bersosialisasi/adaptasi).

Namun sifat positif ini tetap harus ditopang dengan berbagai kemampuan tambahan. Karang Taruna tidak hanya harus pintar dan menguasai teori, tetapi juga harus memiliki kemampuan belajar ( learning ability ) yang tinggi, menyesuaikan dengan tuntutan revolusi industri 4.0.

Dengan cara itu, katanya, Karang Taruna dapat melahirkan wirausahawan muda, membangun dan mengembangkan Usaha Ekonomi Produktif di berbagai bidang dengan menerapkan teknologi digital, dan membuka lapangan kerja baru baik bagi anggota Karang Taruna maupun masyarakat luas.

Dalam kesempatan ini, Kemensos menyerahkan bantuan kepada pengurus Karang Taruna Provinsi Lampung untuk usaha ekonomi produktif Karang Taruna dan paket sembako untuk masyarakat miskin dengan nilai total Rp100.000.000.

BBKT diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Karang Taruna, yang jatuh setiap 26 September. Sejumlah kegiatan dilakukan terkait BBKT, yakni kegiatan pengabdian dan pelayanan langsung kepada masyarakat baik berupa bantuan/santunan kepada Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) terutama di tingkat desa/kelurahan.

 

 
MAKNA LAMBANG KARANG TARUNA

1. Bunga Teratai yang mulai mekar; melambangkan unsur remaja yang dijiwai semangatkemasyarakatan (sosial).

2. Empat helai daun bunga di bagian bawah; melambangkan keempat fungsi Karang Taruna yaitu:

a.  Memupuk kreativitas untuk belajar bertangggung jawab.

b.  Membina kegiatan – kegiatan sosial, rekreatif, edukatif, ekonomis produktif, dan kegiatan lainnya yang praktis.

c.  Mengembangkan dan mewujudkan harapan serta cita – cita anak dan remaja melalui bimbingan interaksi yang dilaksanakan baik secara individual maupun kelompok.

d.  Menanamkan pengertian, kesadaran dan memasyarakatkan penghayatan dan pengamalan Pancasila.

3. Tujuh helai daun bunga bagian atas; melambangkan tujuh unsur kepribadian yang harus dimiliki oleh anak dan remaja.

a.    Taat : Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b.    Tanggap : Penuh perhatian dan peka terhadap masalah

c.    Tanggon : Kuat, daya tahan fisik dan mental

d.    Tandas : Tegas, pasti, tidak ragu, teguh pendirian

e.    Tangkas : Sigap, gesit, cepat bergerak, dinamis

f.     Trampil : Mampu berkreasi dan berkarya praktis

g.    Tulus : Sederhana, ikhlas, rela memberi, jujur

4. Pita di bagian bawah bertuliskan KARANG TARUNA;

Mengandung arti:

KARANG = pekarangan, halaman, atau tempat

TARUNA = remaja

Secara keseluruhan berarti tempat atau wadah pembinaan remaja. 

5. Pita di bagian atas bertuliskan ADITYA KARYA MAHATVA YODHA;

Mengandung arti:

ADITYA : Cerdas, penuh pengalaman

KARYA : Pekerjaan

MAHATVA : Terhormat, berbudi luhur

YODHA : Pejuang, patriot

Secara keseluruhan berarti Pejuang yang berkepribadian, berpengetahuan, dan terampil.

6. Lingkaran; melambangkan sebuah tameng, sebagai lambang Ketahanan Nasional.

7. Bunga Teratai yang mekar berdaun lima helai; melambangkan lingkungan kehidupan masyarakat yang sejahtera merata berlandaskan Pancasila.

8. Arti warna

Putih    : Kesucian, tidak tercela, tidak ternoda

Merah   : Keberanian, sabar, tenang, dan dapat mengendalikan diri, tekad pantang mundur

Kuning  : Keagungan atas keluhuran budi pekerti